Hai… Ih udah lama banget ya kita tak bersua di dunia maya? Pertama-tama aku mau ngucapin Minal Aidin wal Faidzin. Maafin kalo aku terlalu ngangenin.
Belum ada perubahan yang terjadi secara signifikan sepanjang Ramadhan (tentu saja aku tak membahas tentang tingkat keimanan). Walau telah lewat lebaran, sudah dua minggu liburan, aku masih saja jomblo menawan. Yang artinya masih pula perawan – yang sebagai gadis metropolitan, bisa dibilang ini menjadi hal yang bisa aku banggakan. Yaa gini-gini juga kan aku masih menjunjung tinggi adat ketimuran. *ini bukan pencitraan*
Namun sepanjang bulan kemarin hingga awal bulan hari ini, ada beberapa kejadian yang cukup mencengangkan.
Di suatu malam nan syahdu, di sebuah kedai yang kurang laku, Nadine, salah satu teman karibku, menghampiriku yang sedang gigit-gigit kuku akibat memandangi yang lagi bercumbu rayu di sebuah bangku, arah jam satu.
“Hosh hosh hosh…” Nadine terengah-engah akibat lari-lari kecil demi menghampiri aku yang lagi duduk tenang ditemani sebuah buku. Buku tentang akuuuu, yang baru terbit ituuuuu!!!!
*sekalian promosi*

Ohh Emm Jii – 4L4Y Seksi!! *edisi promosi*
“Opa-opa minum jamu… Kenapa kamu?” tanyaku.
“Bok, masa ya… akhirnya gue putus!!” kata Nadine setenang air tak berriak.
“SUMPAH DEMI APPPAAAAHHH???” eh malah aku yang teriak.
Si pasangan yang lagi bercumbu rayu di arah jam satu melirik keki ke arahku. Suara melengking barusan rupanya cukup mengganggu. Sebagai permohonan maaf, aku mengangguk kecil, bibir tersenyum dikulum, tangan melambai-lambai lunglai… ala-ala Puteri Masako. *puteri Jepang!* *bukan puteri penyedap masakan!*

Puteri Masako nan elok jelito… yo yo yo… *ini Jepang apa Padang?*
Setelah suasana kembali terkondisikan – si pasangan kembali mesra-mesraan – aku kembali fokus pada Nadine.
“Akhirnyaaaa…” komentarku antusias.
Sebenarnya mendengar kabar tersebut tidaklah terlalu mengagetkan. Karena jauh-jauh hari sebelumnya si Nadine ini memang sudah sering curhat bahwa ia sedang dalam kondisi gamang mengambang terhadap si pacar – yang sekarang sudah menjadi mantan – yang sudah bersama-sama dengannya selama 5 tahun 3 bulan.
Ia lalu menceritakan proses putusnya kepadaku dengan lancar. Tanpa tersirat sedikit pun penyesalan di matanya. Seakan-akan kehilangan orang yang telah mengarungi kehidupan sayang-sayangan selama sekian tahun bukanlah sebuah beban yang segitunya harus dimasukkan ke dalam hati.
Salah satu pemicu yang menyebabkan Nadine jadi punya setetes pemikiran untuk putus-nggak-putus-nggak sama sang mantan adalah karena ia sedang dekat-dekat gitu sama seorang laki-laki baru. Namanya Alex. Profesinya adalah… Eh aku lupa, apa ya profesinya? Yah sebut sajalah profesinya adalah seorang selingkuhan profesional. Alex dan Nadine baru saja mengenal satu sama lain selama kira-kira setengah tahun terakhir. Namun rupanya enam bulan mampu memampatkan waktu 5 tahun bersama pacar terdahulu menjadi masa romansa yang lebih singkat namun jauh lebih padat. Semacam kejar paket saja.
Padahal seingatku, sebelum Nadine bersua dengan Alex, ia dan si mantan telah memiliki wacana untuk mengikat tali dengan simpul mati, berjanji setia hingga aki-nini. Oh, kurang serius apa coba?
***
Kasus lain yang kurang lebih 90% sama hakikatnya dengan kisah percintaan Nadine – masih seputar PHK, Pemutusan Hubungan Kasih – terjadi pada temanku yang lain.
Kemarin siang, selang dua mingguan dari aku dan Nadine punya percakapan, aku sedang goler-goleran di kontrakan. Ditemani sepiring gorengan, aku membaca kembali buku yang bercerita tentang aku itu lhooo… Nggak bosen-bosen deh bacanya, soalnya lucu-lucu gemes gitu!! Teleponku berdering mengeluarkan musik Pitbull yang sedikit-banyak mirip sekali dengan nuansa musik yang di putarkan di bar dangdut sepanjang Pantura.
Eh nomor Paramita tertera di sana.
“Hawoh!” sapaku sok imut.
“Bar, ketemuan yukk!!”
“Ada apa nih? Kok tiba-tiba?”
“Pingin cerita”
“Tentang Jeki apa tentang Joni nih?” Karena aku tahu, kalau ia sudah bilang kata sandi ‘pingin cerita’, pasti ceritanya tak jauh dari kisah asmaranya. Dan dua orang itu adalah kisah asmaranya akhir-akhir ini.
“Dua-duanya!! Cuss ah! Dimandosseh1 ?”
“Ke kontrakkan aku ajya yah!! Aku soalnya lagi baca buku Ohh Emm Jii… Itu loooh buku yang tentang aku ituuuhh!! Lucu bangett!! Aku udah sampe bagian dimana… “
TUUT TUUUT TUUUUTTT…
Sialan! Teleponnya ditutup.
Oh ya btw, Jeki adalah pacar Paramita selama kurun waktu 5 tahun terakhir. Orangnya luar biasa baik dan penurut. Jarang marah dan selalu memberikan apa yang Paramita minta. Kalau aku lihat mereka berpacaran, lagaknya sudah kaya mau kawin besok. Lengket-lengket minta diselepet. Dan tatapan mereka satu sama lain, sangatlah mencerminkan hubungan yang serius.
Sementara Joni, yah siapa lagi kalau bukan lelaki lain dalam kehidupannya, yang baru saja dikenal oleh Paramita 2 bulanan lalu.
Tak harus melapor ketua RW, karena tak sampai 2×24 jam kemudian, Paramita dan aku pun bersua. Tanpa preambul yang berarti, ia langsung membuka dengan…
“Cyin… masoseh yes… Akikuk Putusanjaya!!” 2

Entah siapa itu Putu Sanjaya… Namun kamu tahu dong Putu Wijaya??!
Hening. Perasaanku saat mendengar berita ini sama seperti saat aku mendengar berita dari Nadine.
Dua bulan sebelumnya, Paramita terus-terusan membicarakannya. Betapa si Joni begitu jenaka, betapa perhatian namun juga manja, dan betapa Joni mengembalikan jiwa bebasnya.
Jawabanku pun sama seperti jawaban yang kuberikan kepada Nadine.
“Akhiiirraaattt, cyiiinn…” 3 begitu jawabku. Hanya saja, kali ini lebih tenang, tidak terlalu antusias. Mungkin karena aku pernah menerima curhatan yang persis sama sebelumnya. Jadi responnya anti-klimaks.
***
Putus cinta memang hal yang sudah biasa. Namun akan menjadi luar biasa saat pemutusan tersebut dialami oleh pasangan yang sudah berjalan melebihi masa kerja presiden beserta jajaran kabinetnya – seperdua puluh abad lamanya. Dan yang paling membuatku tak habis pikir adalah, yang menyebabkan putusnya hubungan itu adalah karena adanya PIL – Pria Idaman Laki-laki Lain.
Tanda tanya besar pun muncul di benakku. Kalau mereka bisa saling jatuh cinta 5 tahun sebelumnya dan saling melengkapi selama 5 tahun kemudian, apakah cinta bisa terkikis begitu saja seiring berjalannya waktu? Oh, betapa cinta adalah bangunan pasir, dan PIL adalah ombak kecil-kecil. Bangunan pasir lama-lama tergerus jua apabila riak ombak berhasil mendekatinya.
Tapi ada yang hal yang paling membuatku tak habis pikir. Saat hati menggebu-gebu bersama seseorang yang baru, tak bisakah perasaan itu dirasakan lagi bersama pacar terdahulu??
Hidup memang dilalui banyak pilihan. Lebih baik salah pilih daripada tak ada pilihan sama sekali. Namun sampai kapan kita harus pilah-pilih. Bukankah pada suatu titik, sinetron pun harus berhenti. Kita punya Tersanjung sebagai bukti. (Eh, Tersanjung berhenti di session 4 berapa sih?). Nggak mau kan, hidup jadi seperti sinetron berseri? Hobinya tebar drama sana-sini.

Dunia dirudung mendung, kehilangan Tersanjung :’(
Ah jadi serius gini! Hihihi… Yaudasiiii, urusin diri sendiri ajya kaliiiii!! *pasang bulu mata Syahrini* *lirik kanan-kiri* *siapa tahu lewat laki-laki idaman hati*
CATATAN KAKI DARI EDITOR
1 Dimana
2 Wahai temanku, masa ya, gue putus!!
3 Akhiiiirnya, duhai kawan!!
4 Season