Pengumuman Penting Dengar Hai Dengar!!

Hai guys, girls, and gays… Kan aku pernah mengalihkan wordpress ini menjadi web betulan. Eh namun, kemarin-kemarin tuh sempat main tenis alias maintenance terus. Nah sekarang sudah siap saji tuh!

Jadi, silahkan beralih ke web aku di http://www.ceriterabarbara.com yiiaa. Semua kisah di wordpress ini teralihkan ke sana semua kok. Jangan sungkan untuk cek-bebi-cek ke sana, okay?! 😉

S A L A M A N I S E L A L U N T U K M U

 

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Sore Hari Mengenang Whitney Plus Diskusi Mengenai Pengawal Pribadi

Aku kaget sekali pagi-pagi karena sebuah kabar dukacita yang kudapati. Salah satu penyanyi idolaku–yang lagu-lagunya menemani dari masa pra-menstruasi sampai umur segini–telah meninggal dini. Memang aku nggak kenal sii, namun bagaimanapun doi menorehkan sejarah tersendiri dalam aku punya memori–yang walaupun hanya sekelas floppy. Ya, aku bicara tentang tante Whitney.

Beberapa lagunya pernah menjadi jajaran soundtrack kehidupan. Dari percintaan, pertemanan, pekerjaan, sampai ke ranah pendidikan.

I Will Always Love You terngiang-ngiang di telinga saat aku mengamati foto kecengan-seumur-umur yang selama ini kuselipkan baik-baik di dompetku–sebaik aku menyimpan kembalian angkot di balik beha, kalau-kalau ribet ngubek-ngubek tas untuk mencari tempat recehan.

Saving All My Love For You bercerita tentang aku yang menabung kecengan demi mendapatkan pasangan betulan di masa depan. Perbanyaklah kecengan! Cinta berbalas atau tidak itu urusan belakangan!

I Believe In You And Me bercerita tentang aku yang percaya banget sama sang pasangan-masa-depan-yang-belum-ketauan-rimbanya untuk mengarungi kehidupan bersama selamanya–yang sampai sekarang titik terangnya masih remang-remang.

When You Believe bergema di hati saat aku tak pede saat mengerjakan ujian, baik ujian perkuliahan atau–lagi-lagi–ujian percintaan.

Balik lagi ke Whitney, aku inget dulu ada parodiannya The Bodyguard–film hits doi bareng Kevin Costner yang waktu itu badannya rada keker–sebelas-duabelas sama Billy Bujanger. Judulnya Bodi Kuat. Karakter Whitney Houston yang namanya Rachel Marron jadi Reseh Manyun, diperankan sama Titik Dijey. Ah jadulnya aku. Brb bakar ktp.

“The Bodyguard–Kostum nyanyi Whitney Houston yang sebelas-duabelas sama kostum tinju Mike Tyson

Nah, speaking of witch, kemarin-kemarin aku sempat bersua dengan teman lama, Dina namanya. Masih sama seperti beberapa tahun lalu, ia masih bersama kekasihnya yang tinggal di kota yang berbeda. LDR–Long Desperate Distance Relationship–gitu deh. Dan masih seperti 3 tahun lalu pula, kebiasaan pacarnya belum berubah.

“Aku masih seperti yang duluuu…” Samar-samar sepertinya aku bisa membayangkan pacar Dina menyenandungkan lagu itu.

Setiap 10 menit, akan terdengar bunyi lagu “Lady Entebelum”–ente belum kek, ente udah kek, emang gue urusin–dari hapenya. Di ujung sini, selalu terdengar jawaban yang cenderung sama: “masih sama Barbara”, “masih di tempat makan”, “udah”, “oke”, dan akhirnya “love you too!“–yang sukses bikin aku kejengkang ngangkang ke belakang.

“Memangnya dese nggak kerja?” Tanyaku bingung, setelah dia menutup teleponnya untuk yang ke-empat kalinya dalam kurun waktu 50 menit terakhir.

“Dia kan jajaran direktur…”

Ish pongahnya!! Dalam hati aku nyeletuk sembari garuk-garuk.

“… Jadi kerjaannya, ya kaya bos-bos di sinetron gitu. Tanda tangan, meeting, dan lain-lain. Kaya sibuk, padahal nggak juga.”

“Udah berapa lama sih total pacarannya?” Aku mencoba mengingat-ingat , karena semenjak terakhir aku mengenalnya, pacarnya masih juga orang yang sama.

“Udah 4 tahun lebih.”

“Pake baju, baju singlet… Buju Buset! Dan itu selalu dia lakukan selama 4 tahun ini?

Itu tuh apa?

“Ya nelepon kamu saban berapa menit!”

“Iya.” Dengan melemparkan ekspresi ‘otot kawat tulang besi… So what, emang kenapa sii?’

“Ga sayang pulsa emangnya?

“Lupa ya? Kan dia anak orang kaya, yang sekarang jadi orang kaya juga. Beli pulsa sih kaya beli ciki.”

“Kalau dia nelepon ngobrol apa ajya?

“Ya standar lah, cuman nanya ‘sedang apa dan dimana’?

“Jadi dari dulu pacar kamu Sammy Simorangkir?”

Dina melongo. Rupanya ia tak mengikuti perkembangan blantika musik Indonesia masa kini.

Anyway, kamu ga risih dan ribet diteleponin terus begitu?” Tanyaku lagi.

“Nggak dong. Artinya kan dia perhatian. Dia memastikan bahwa aku akan sampai lagi di rumah dengan aman.” Dina menyeruput beras kencurnya. “Gini Bar, setiap perempuan tuh butuh semacam bodyguard sebagai sosok untuk melindungi. Nah, aku sama dia kan jauhan. Jadinya dia menelepon aku setiap beberapa menit sekali itu sebagai kompensasi atas ketidakhadirannya dia dalam keseharianku.” Matanya berbinar. Bibirnya bergetar.

Perbincangan kami yang menuju serius teralihkan oleh seorang ibu-ibu dengan gesper bulu yang menarik perhatian kami. Baru kami mau berkomentar tajam perihal item bulu si ibu, saat itu pulalah teman kami yang lain–Marini–tiba dengan menenteng tas berwarna magenta lucu, Hermes KW satu.

Kami cipika-cipiki. Di belakangnya berdiri mematung seonggok pria berbadan body-builder dengan kacamata hitam berbingkai kuning. Berdiri agak miring tak bergeming.

“Kamu masih ajyah dikawal sama si Macho?” bisikku saat kami lagi cipiki.

“Hihi… iya. Masih belum bosen doi ngintilin gue.”

“Bisa capcus dulu nggak doi? Risih aku gegosipan diliatin sama laki-laki non-banci.”

Setelah Marini mengisyaratkan pria itu agar melipir. Si Macho–begitulah panggilannya–sontak pergi ke pojokan, kadang ke parkiran, menunggu gadis idamannya bergosip lucu bersama teman-teman perempuannya selama hampir 3 jam.

Si Macho memang bukanlah pacar Marini. Bukan pula bodyguard pribadi. Mana mampu dia nyewa orang buat jagain doi? Tasnya saja nyicil tiga kali. Namun si Macho memang menyimpan hati pada Marini. Berhubung si Macho badannya kekar berisi pun bermobil Mersi, Marini tak segan menjadikannya pengawal selama beberapa bulan ini. “Toh dianya yang menawarkan diri!” Serunya tak peduli.

Kesimpulan dari perbincangan kami sore itu adalah namanya perempuan, kepingin juga dijaga dan diperhatikan kan?

Mendengarkan cerita mereka, aku hanya manggut-manggut imut. Tak tahu rasanya di-bodyguard-in. Lagipula aku juga bukan diva. Jadi belum perlu lah sosok seorang bodyguard yang selalu mengawasi kegiatanku yang segudang nan menyita waktu serta energi sehingga butuh suplemen untuk menjaga metabolisme badan. Latihan untuk ngisi iklan infotainment.

Kembali lagi ke topikku semula, tentang aku yang ikut-ikutan berduka atas sang diva yang sebenarnya. Satu lagu Whitney Houston yang jadi lifetime soundtrack aku adalah Run To You. Bagaimana tidak? Dari dulu aku selalu ngejar-ngejar laki-laki lucu dengan hasil akhir yang itu-itu selalu: menanggung malu. Ditolak melulu!! Nyeruput susu, campur lem UHU.

“Lem UHU… Obat jitu saat menanggung malu”

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Mejeng Seksi

Haluuu temans, fans, kecengans, mantans, pria2 tampans, perempuan2 kecentilans… Udah pada punya buku aku belum? (atau paling tidak, minjem lah… atau paling tidak, baca lah… atau paling tidak, ngintip lah…) Ada setetes kabar nih. Di beberapa toko, buku aku pernah mejeng seksi di jejeran Best Seller.

Ada jerapah suka ngiler… Bukannya pongah, bukannya pamer. Cuman kepingin minta doa dan dukungannya semoga aku dan penulis aku (si mbak maknyes yang imut dan lucu) bisa terus mengeluarkan buku tentang aku, supaya bisa selalu menghibur kamu… 🙂

Mejeng Nihyeee… 🙂

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pacaran Serius?! Doesn’t Mean Nggak Bisa Putus!

Hai… Ih udah lama banget ya kita tak bersua di dunia maya? Pertama-tama aku mau ngucapin Minal Aidin wal Faidzin. Maafin kalo aku terlalu ngangenin.

Belum ada perubahan yang terjadi secara signifikan sepanjang Ramadhan (tentu saja aku tak membahas tentang tingkat keimanan). Walau telah lewat lebaran, sudah dua minggu liburan, aku masih saja jomblo menawan. Yang artinya masih pula perawan – yang sebagai gadis metropolitan, bisa dibilang ini menjadi hal yang bisa aku banggakan. Yaa gini-gini juga kan aku masih menjunjung tinggi adat ketimuran. *ini bukan pencitraan*

Namun sepanjang bulan kemarin hingga awal bulan hari ini, ada beberapa kejadian yang cukup mencengangkan.

Di suatu malam nan syahdu, di sebuah kedai yang kurang laku, Nadine, salah satu teman karibku, menghampiriku yang sedang gigit-gigit kuku akibat memandangi yang lagi bercumbu rayu di sebuah bangku, arah jam satu.

“Hosh hosh hosh…” Nadine terengah-engah akibat lari-lari kecil demi menghampiri aku yang lagi duduk tenang ditemani sebuah buku. Buku tentang akuuuu, yang baru terbit ituuuuu!!!! 😀 *sekalian promosi*

 

Ohh Emm Jii – 4L4Y Seksi!! *edisi promosi*

“Opa-opa minum jamu… Kenapa kamu?” tanyaku.

“Bok, masa ya… akhirnya gue putus!!” kata Nadine setenang air tak berriak.

“SUMPAH DEMI APPPAAAAHHH???” eh malah aku yang teriak.

Si pasangan yang lagi bercumbu rayu di arah jam satu melirik keki ke arahku. Suara melengking barusan rupanya cukup mengganggu. Sebagai permohonan maaf, aku mengangguk kecil, bibir tersenyum dikulum, tangan melambai-lambai lunglai… ala-ala Puteri Masako. *puteri Jepang!* *bukan puteri penyedap masakan!*

 

Puteri Masako nan elok jelito… yo yo yo… *ini Jepang apa Padang?*

Setelah suasana kembali terkondisikan – si pasangan kembali mesra-mesraan – aku kembali fokus pada Nadine.

“Akhirnyaaaa…” komentarku antusias.

Sebenarnya mendengar kabar tersebut tidaklah terlalu mengagetkan. Karena jauh-jauh hari sebelumnya si Nadine ini memang sudah sering curhat bahwa ia sedang dalam kondisi gamang mengambang terhadap si pacar – yang sekarang sudah menjadi mantan – yang sudah bersama-sama dengannya selama 5 tahun 3 bulan.

Ia lalu menceritakan proses putusnya kepadaku dengan lancar. Tanpa tersirat sedikit pun penyesalan di matanya. Seakan-akan kehilangan orang yang telah mengarungi kehidupan sayang-sayangan selama sekian tahun bukanlah sebuah beban yang segitunya harus dimasukkan ke dalam hati.

Salah satu pemicu yang menyebabkan Nadine jadi punya setetes pemikiran untuk putus-nggak-putus-nggak sama sang mantan adalah karena ia sedang dekat-dekat gitu sama seorang laki-laki baru. Namanya Alex. Profesinya adalah… Eh aku lupa, apa ya profesinya? Yah sebut sajalah profesinya adalah seorang selingkuhan profesional. Alex dan Nadine baru saja mengenal satu sama lain selama kira-kira setengah tahun terakhir. Namun rupanya enam bulan mampu memampatkan waktu 5 tahun bersama pacar terdahulu menjadi masa romansa yang lebih singkat namun jauh lebih padat. Semacam kejar paket saja.

Padahal seingatku, sebelum Nadine bersua dengan Alex, ia dan si mantan telah memiliki wacana untuk mengikat tali dengan simpul mati, berjanji setia hingga aki-nini. Oh, kurang serius apa coba?

***

Kasus lain yang kurang lebih 90% sama hakikatnya dengan kisah percintaan Nadine – masih seputar PHK, Pemutusan Hubungan Kasih – terjadi pada temanku yang lain.

Kemarin siang, selang dua mingguan dari aku dan Nadine punya percakapan, aku sedang goler-goleran di kontrakan. Ditemani sepiring gorengan, aku membaca kembali buku yang bercerita tentang aku itu lhooo… Nggak bosen-bosen deh bacanya, soalnya lucu-lucu gemes gitu!! Teleponku berdering mengeluarkan musik Pitbull yang sedikit-banyak mirip sekali dengan nuansa musik yang di putarkan di bar dangdut sepanjang Pantura.

Eh nomor Paramita tertera di sana.

“Hawoh!” sapaku sok imut.

“Bar, ketemuan yukk!!”

“Ada apa nih? Kok tiba-tiba?”

“Pingin cerita”

“Tentang Jeki apa tentang Joni nih?” Karena aku tahu, kalau ia sudah bilang kata sandi ‘pingin cerita’, pasti ceritanya tak jauh dari kisah asmaranya. Dan dua orang itu adalah kisah asmaranya akhir-akhir ini.

“Dua-duanya!! Cuss ah! Dimandosseh1 ?”

“Ke kontrakkan aku ajya yah!! Aku soalnya lagi baca buku Ohh Emm Jii… Itu loooh buku yang tentang aku ituuuhh!! Lucu bangett!! Aku udah sampe bagian dimana… “

TUUT TUUUT TUUUUTTT…

Sialan! Teleponnya ditutup.

Oh ya btw, Jeki adalah pacar Paramita selama kurun waktu 5 tahun terakhir. Orangnya luar biasa baik dan penurut. Jarang marah dan selalu memberikan apa yang Paramita minta. Kalau aku lihat mereka berpacaran, lagaknya sudah kaya mau kawin besok. Lengket-lengket minta diselepet. Dan tatapan mereka satu sama lain, sangatlah mencerminkan hubungan yang serius.

Sementara Joni, yah siapa lagi kalau bukan lelaki lain dalam kehidupannya, yang baru saja dikenal oleh Paramita 2 bulanan lalu.

Tak harus melapor ketua RW, karena tak sampai 2×24 jam kemudian, Paramita dan aku pun bersua. Tanpa preambul yang berarti, ia langsung membuka dengan…

“Cyin… masoseh yes… Akikuk Putusanjaya!!” 2

 

Entah siapa itu Putu Sanjaya… Namun kamu tahu dong Putu Wijaya??!

Hening. Perasaanku saat mendengar berita ini sama seperti saat aku mendengar berita dari Nadine.

Dua bulan sebelumnya, Paramita terus-terusan membicarakannya. Betapa si Joni begitu jenaka, betapa perhatian namun juga manja, dan betapa Joni mengembalikan jiwa bebasnya.

Jawabanku pun sama seperti jawaban yang kuberikan kepada Nadine.

“Akhiiirraaattt, cyiiinn…” 3 begitu jawabku. Hanya saja, kali ini lebih tenang, tidak terlalu antusias. Mungkin karena aku pernah menerima curhatan yang persis sama sebelumnya. Jadi responnya anti-klimaks.

***

Putus cinta memang hal yang sudah biasa. Namun akan menjadi luar biasa saat pemutusan tersebut dialami oleh pasangan yang sudah berjalan melebihi masa kerja presiden beserta jajaran kabinetnya – seperdua puluh abad lamanya. Dan yang paling membuatku tak habis pikir adalah, yang menyebabkan putusnya hubungan itu adalah karena adanya PIL – Pria Idaman Laki-laki Lain.

Tanda tanya besar pun muncul di benakku. Kalau mereka bisa saling jatuh cinta 5 tahun sebelumnya dan saling melengkapi selama 5 tahun kemudian, apakah cinta bisa terkikis begitu saja seiring berjalannya waktu? Oh, betapa cinta adalah bangunan pasir, dan PIL adalah ombak kecil-kecil. Bangunan pasir lama-lama tergerus jua apabila riak ombak berhasil mendekatinya.

Tapi ada yang hal yang paling membuatku tak habis pikir. Saat hati menggebu-gebu bersama seseorang yang baru, tak bisakah perasaan itu dirasakan lagi bersama pacar terdahulu??

Hidup memang dilalui banyak pilihan. Lebih baik salah pilih daripada tak ada pilihan sama sekali. Namun sampai kapan kita harus pilah-pilih. Bukankah pada suatu titik, sinetron pun harus berhenti. Kita punya Tersanjung sebagai bukti. (Eh, Tersanjung berhenti di session 4 berapa sih?). Nggak mau kan, hidup jadi seperti sinetron berseri? Hobinya tebar drama sana-sini.

Dunia dirudung mendung, kehilangan Tersanjung 😥

Ah jadi serius gini! Hihihi… Yaudasiiii, urusin diri sendiri ajya kaliiiii!! *pasang bulu mata Syahrini* *lirik kanan-kiri* *siapa tahu lewat laki-laki idaman hati*

CATATAN KAKI DARI EDITOR

1 Dimana

Wahai temanku, masa ya, gue putus!!

3 Akhiiiirnya, duhai kawan!!

4 Season

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Permisiii… Promosiii…

Hai kawan-kawan…

Sebelumnya di blog ini, aku pernah mengadakan konferensi kecil-kecilan mengenai buku aku yang waktu itu akan segera terbit. Nah setelah melewati berbagai suka dan tawa, maka dengan agak sedikit malu-malu-bangga-jumawa, aku menginfokan bahwasanya buku tentang aku yang ditulis oleh mba Thya ‘Maknyes’ Said sudah mejeng seksi di rak-rak toko-toko buku terdekat di hati Anda. Dengan buku ini pula, aku menancapkan kuku – yang baru di-meni-pedi ini – di dunia modelling, karena yang jadi model di sampul depannya siapa lagi kalau bukan… ehem… uhuk… cyek cyek sacyu duwa cyek saaund… *cek mike dulu* *biar dramatis* … AKKUUUUUUHHH!!!

“Ini cover depannya, kakaaa… Ada komentar Ringgo Agus Rahman-nya, kakaa…”

Info lengkapnya juga bisa dicyek-cyek di sini: http://www.gramediashop.com/book/detail/9789790815384/Ohh-Emm-Jii

Semoga cyeman-cyeman bisa menikmati anuku yang baru dikeluarkan ini. Doakan pula semoga si penulis tak kehabisan ide untuk mengemas ceritaku sehingga cerita-ceritaku bisa berkelanjutan nan berkesinambungan.

Silahkan dibeli, dibeli, dibeli, dan diapresiasi 🙂

P.S: Oh ya kalau teman-teman mau bertemu dengan sang penulis, doi bakalan iksis bingit di acara talkshow bedah buku di Gramedia, Merdeka, Bandung, tanggal 9 Juli 2011. Dateng yiiaaa… 😉

Posted in Uncategorized | 9 Comments

Konferensi Pereus

Hai Temaaann…

Maaf banget yah, aku sudah lama sekali tak nge-blog. Aku sedang tak sempat menulis nih, karena sekarang ini aku sedang dalam peroses pembuatan buku. Bukan aku sih yang membuat bukunya, melainkan seorang penulis bernama Thya “Maknyes” (boleh difollow twitternya: @maknyes, cacaaa!!) yang menjadikan aku sebagai tokoh utama di bukunya. Jadi beberapa waktu belakangan ini aku dan dirinya memang sedang fokus dalam penyelesaian buku ini.

Kesibukanku yang sangat padat ini membuat badanku sering lelah dan metabolisme tubuh kurang sempurna. Jadi, sangat mempengaruhi performa. Maka aku pun menyadari bahwa aku harus menjaga kesehatan secara maksimal dari sekarang! Karena itulah aku memilih $&*%@?+% (disensor… belum dapet sponsor) sebagai penunjang kesehatan pencernaanku. *pesan ini dipersembahkan oleh obat pencahar*

Kembali lagi ke persoalan buku… Buku apa sih yang sedang kugarap? Kok nampaknya sibuk sekali, seperti petani yang sedang menggarap sawah atau orang PDKT yang sedang menggarap jadian. *itu mengharap, ca!* Yang pasti bukan buku Fisika macam Martin Kanginaan atau buku Bahasa Indonesia macam J.S badudu. Yaaahhh… bukuku sih buku ala-ala gitu. *malu-malu ulet bulu*

Buku ini diambil dari kisah-kisah keseharianku, baik yang pernah kuceritakan di blog ini maupun yang masih terselubung dalam tabir kejujuran yang belum terkuak. Kalo dipikir-pikir, memang sih aku bukanlah perempuan super yang menaklukan monster, atau mendamaikan dunia yang keblinger, apalagi bisa terbang ngider-ngider, dan jago berkelahi bak Billy Bujanger. Namun kan sebenarnya aku itu (bisa dibilang agak) pinter walau agak caper.

Aku juga bukanlah Wonder Woman.

“Tadaaa!!! Inilah dia… Wonder Woman pasca muter-muter!!!”

Muter-muter sebentar saja, aku pusing. Apalagi muter-muter agak lama untuk ganti kostum ala Wonder Woman – yang sekarang kepopulerannya sudah tergantikan oleh Wonder Girls. *mendadak nyanyi* *mana suaranyaaa!!* *I said nobody nobody but you…* *prok prok!*

“Ga jauh beda ah… Imutnya sih, aku ga kalah… Yaah, cuman beda nasib ajyah…”

Aku juga bukanlah perempuan terkenal, artis, bintang film, penyanyi, atau apapun yang berlabel selebriti. Aku hanyalah seorang insinyur yang kurang tepat guna karena menjelma menjadi penyiar radio yang lebih suka berkutat dengan manusia seutuhnya ketimbang dengan beton atau baja.

Namun, kok bisa sih kisahku dijadikan buku? Ada penerbit yang tertarik pula!

Yah, mungkin karena aku adalah sosok perempuan Indonesia asli yang mandiri dan percaya diri. Walaupun sebenarnya aku pun memiliki kelemahan (yang salah-satunya ialah pria-pria tampan). Aku juga bisa dibilang tak takut akan apapun (eeeuuhh… kecuali pocong), bisa dilihat dari tempat tinggalku yang terletak di kompleks pekuburan.

Kisah yang diangkat bukan melulu seputar kisah percintaan, namun juga ada kisah persahabatan, kehidupan, seputar pekerjaan, mistis alias setan-setanan, sampai pencitraan. *ehem* *benerin kerah*

Secara keseluruhan, buku ini merupakan kumpulan kisah sederhana dan tak banyak menuntut apa-apa. Kami hanya ingin membuat pembaca tertawa. Atau paling tidak, nyengir-nyengir bahagia. Atau paling tidak, senyum-senyum manja.

Kalau sudah terbit nanti, saya mohooooonnnnnn sekali… plis pada beli! Mana tahu kaan suatu saat aku bisa jadi sekelas Barbara Mori!! 🙂 *khayal babu pagi-pagi*

“Itu loooh… yang main telenovela ‘Ruby’!!”

Posted in Uncategorized | 9 Comments

Jagalah Rahasia Pada Tempatnya

(Cerita sebelumnya…)

Namun, si Dadang main di Malang, si Buluk main di Kenya – lain padang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya. Tiap orang pasti punya pertahanan diri yang berbeda-beda dalam menjaga rahasia. Berikut adalah contoh bagaimana mereka mengatasi sebuah keadaan dimana mereka harus menyimpan sebuah rahasia rapet-rapet, serapet khasiat jamu galian singset.

Seperti misalnya teman kuliahku, si Lupita, anak Matematika. Doi ini sebenarnya lumayan bisa dipercaya, hanya saja orangnya pelupa.

Salah satu contohnya adalah sebuah percakapan di suatu senja nan kemerahan, dimana aku sedang ada perlu sama Herman sehubungan dengan dia ngutang. Waktu itu Lupita menyandang gelar sebagai pacar Herman. Maka ia sering dipanggil Herwoman.

Aku: “Hey, Man!!” *lari-lari kecil* *pake high-hills 1*

Setelah aku dan dia berjarak beberapa senti, aku pun mengibaskan rambutku yang harum mewangi, habis dimasker strawberry.

Aku: “Si Herman mana sih? Kok seharian ga masuk kampus?”

Lupita: “Eeeh diaaaa…” *ada setetes jeda* *sambil ngelus dada* *yang seukuran gada*

Wajahnya menunjukkan bahwa ia berpikir keras, seperti mengingat-ingat sesuatu. Bola matanya melirik ke arah kiri, yang artinya ia sedang mengingat-ingat, bukan sedang mencoba mengarang sebuah jawaban.

Lupita: “… Diaa… eeuuh duh gue lupa deh.”

Aku: “Kamu lupa si Herman kemana?”

Lupita: “Nggak. Gue lupa apakah gue boleh bilang-bilang ke elo mengenai dia pergi kemana?” *dengan tetap menunjukkan ekspresi berpikir keras*

Si gadis bernama Lupita ini memang ikon pelupa pada masanya. Karena itu pulalah, namanya diabadikan untuk sebuah istilah ‘lupa’. Jadi kalau mau bilang ‘aku lupa’ jadinya ‘aku lupita’. Naah banci-banci masa kini memodifikasi sehingga terdengar lebih hits cenderung seksi. Untuk kata yang sama ‘aku lupa’, bisa diubah menjadi ‘akikuk lupiting’ atau ‘akika lupitus’ sampai yang tak masuk akal seperti ‘aklamasi lupis manis meringis’. *makin pusing, cyin* *nenggak Combantrin*

Ohya, contoh Lupita di atas adalah perpaduan antara pelupa dan terlalu jujur. Beda kasus dengan temanku yang lain. Namanya Juju Ramadhani. Beliau ini adalah gadis paling jujur dan besar bujur. Berikut adalah penggalan kisah kejujurannya, dimana latar belakang kasusnya adalah aku mencari Herman, masih dalam pengejaran dalam rangka penagihan hutang. Juju Ramadhani satu kelompok dengan Herman di praktikum Mekanika Tanah. Jadi kala itu mereka memang sering bersama-sama.

Aku: “Ju, si Herman mana ya?”

Dengan secepat kilat, tanpa banyak ahm-ehm, ba-bu, pem-ban-tu, ia langsung menjawab,

Juju. R: “Kata si Herman sih lagi ngumpet di himpunan matematika (Jurusan Matematika – red). Dan katanya, gue ga boleh bilang-bilang sama elo.”

Karena kejujuran Juju Ramadhani inilah aku bisa menemukan Herman dan mendapat kembali piutangku yang sudah beberapa minggu belum terbayarkan.

Ada lagi temanku yang jauh berbeda sama Lupita dan Juju Ramadhani, namanya… kita sebut saja dia Mawar. Mawar ini tak seindah dan seharum-semerbak namanya. Dia ini bagaikan bunga bangkai yang senangnya memutar balikkan fakta. Memang sih ia menutup rahasia itu rapat-rapat, namun kan bukan berarti harus mengubah kebenarannya sampai harus mengarang cerita segala.

Contoh kasus nyata adalah saat aku mencari Herman, sebelum aku bertanya pada Juju Ramadhani. Sekedar informasi, pencarian Herman ini memang cukup menyita waktu, sehingga menurutku sih butuh satu bab yang mengulas tentang betapa Herman sulit sekali dicari. Mungkin bisa diberi judul ‘Finding Herman’. *oh sungguh kurang kreatif*

Aku: “Hei Mawar, kamu tahu ga sih kemana si Herman.”

Mawar: “Oooh tau dooong!”

Aku: “Kemana ya si Herman? Susah banget gue mau nagih hutang”

(Dia terlihat bingung… amat sangat bingung… sampai tampaknya ia tak paham apa yang dikatakan olehku)

Mawar: “Tadi gue liat ada di pasar kaget di depan (setiap Jumat ada pasar kaget di depan kampus – red). Tapi kayanya dia jualan kok.”

Pergilah aku ke tempat yang diinfokan oleh Mawar. Kamu harus tahu, lokasi percakapan kami ke depan kampus itu lumayan jauh. Waktu itu aku habis makan. Akibatnya adalah kalikibeun. *Sunda bocor*

Namun sesampainya di sana, aku tak dapat menemukan Herman. Yang kutemukan justru teman kami yang lain yang asyik berjualan kutang di sana. Karena kesal, aku sudah tak mempercayai Mawar lagi. Aku merasa ia telah membohongiku. Aaaahh!! *buang muka* *hapus air mata* *ala-ala Pay Su Cien*

Bahkan aku sampai pada level tak mau lagi bertanya sesuatu padanya, takut jawabannya ngaco.

Namun tak berapa lama kemudian, sebuah kebenaran terkuak. Hh-apakah yang sebenarnya terjadi? Hmm-benarkah si Mawar sejahat yang diduga? Ternyata kenyataan yang terkuak adalah bahwasanya si Mawar ini bukan jahat hatinya, comel mulutnya, melotot matanya, membesar-menyempit lobang hidungnya, bak Leli Sagita di sinetron bulan puasa. Dia… hanya… budek… kupingnya. *memperkecil volume suara* *tertunduk malu* *memilin-milin baju* *ala-ala pembantu*

Dan disinyalir beginilah percakapan berdasarkan versi Mawar.

Aku: “Hei Mawar, kamu tau Aga si temannya Shierman?”

(Shierman adalah nama teman kami… Orang tua mana yang memberi nama anaknya Shierman)

Mawar: “Oooh tau dooong!”

Aku: “Kepalanya Shierman? Suka banget gue mau ngasih kutang.”

(Oh beginilah alasan ia bingung)

Mawar: “Tadi gue liat ada di pasar kaget di depan (setiap Jumat ada pasar kaget di depan kampus – red). Tapi kayanya dia jualan kok.”

Ya iyalah… sudah barang tentu waktu itu aku tak dapat menemukan Herman kala itu. *langsung merasa berdosa*

Memang bermacam-macam tipe temanku berdasarkan cara mereka menangani sebuah rahasia:

  1. Ada yang menjaga dengan sekuat tenaga namun pelupa luar biasa.
  2. Ada yang berusaha mengalihkan issue wacana namun tak bisa bersandiwara.
  3. Ada yang teguh hatinya dalam menjaga rahasia namun latah seada-adanya, yang akhirnya tuh rahasia keluar juga.
  4. Yang paling parah, ada yang tak bisa dipercaya. Dikasih amanat, ia berkhianat. Dikasih Amanda, ia melahap. Apalagi Amanda kukus-keju.

Maka ingatlah kawan!! Agar kita menjadi orang yang terpercaya, camkan!! Bahwa, apapun bentuk rahasianya, kuliah… BSI ajyaaa!!!

“Apapun rahasianya, kuliah… BSI aaajyaaa!!!”

*Catatan kaki dari editor:

1 High-heels

Posted in Pemikiran, Pertemanan | 6 Comments